PENDAHULUAN
Salah satu permasalahan nasional dewasa ini dan akan semakin dirasakan pada masa mendatang adalah masalah energi. Sejalan dengan itu perlu upaya-upaya untuk penggunaan sumber-sumber energi alternatif yang dianggap layak dilihat dari segi teknis, ekonomi, dan lingkungan hidup antara lain bahan bakar nabati atau bioenergi. Di Indonesia tersedia beberapa bahan baku bioenergi, di antaranya singkong, kelapa sawit, dan jarak pagar. Selain bahan baku tersebut, terdapat pula bahan baku dari limbah yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif yaitu minyak jelantah.
Ditinjau dari komposisi kimianya, minyak jelantah mengandung senyawa-senyawa karsinogenik yang dihasilkan selama proses penggorengan. Oleh karena itu, pemakaian minyak jelantah yang berkelanjutan dapat merusak kesehatan manusia, menimbulkan penyakit kanker, penyumbatan pembuluh darah, jantung, dan kolesterol tinggi. Salah satu bentuk pemanfaatan minyak jelantah agar dapat bermanfaat dari berbagai macam aspek ialah dengan mengubahnya secara proses kimia menjadi bahan bakar. Hal ini dapat dilakukan karena minyak jelantah juga merupakan minyak nabati, turunan dari crude palm oil (CPO). Penelitian oleh Handoko (2005) telah berhasil mendapatkan konversi maksimal sebesar 50,43% total fraksi solar dan bensin dari reaksi perengkahan katalitik minyak jelantah dengan katalis Ni/H5-NZA. Proses tersebut berlangsung dalam reaktor sistem flow fixed bed pada temperatur 450oC. Perengkahan dilakukan dalam fasa gas, sebab ukuran partikel reaktan minyak jelantah akan jauh lebih kecil dibandingkan dengan ukuran minyak jelantah pada fasa cair. Trigliserida pada fasa gas memiliki diameter 3 Å (Twaiq, dkk., 1999), sedangkan pada fasa cair akan memiliki diameter 15 Å (Rase, 2000). Reaksi perengkahan ini melibatkan gas hidrogen yang berfungsi sebagai reaktan dan gas pembawa. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Liu, dkk (2006) diketahui bahwa dengan melibatkan gas hidrogen pada pembuatan Fluid Catalytic Cracking (FCC) gasoline menggunakan katalis Ni-Mo-P/USY mampu meningkatkan konversi dari 22,3% olefin menjadi 62,1% olefin.
Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui karakteristik katalis Cr/zeolit alam sehingga dapat diaplikasikan pada reaksi perengkahan minyak jelantah menjadi bahan bakar cair, mengetahui laju alir hidrogen dan waktu reaksi yang optimum sehingga diperoleh hasil konversi minyak jelantah yang tinggi, dan mengetahui jumlah dan jenis hasil produk reaksi perengkahan minyak jelantah.
TINJAUAN PUSTAKA
Mineral zeolit sudah diketahui sejak tahun 1755 oleh seorang ahli mineralogi bernama F.A.F. Cronstedt. Meskipun demikian penggunaan mineral zeolit untuk industri baru dimulai tahun 1940 dan 1973. Tahun 1940 adalah penggunaan mineral zeolit sintetis, sedangkan tahun 1973 adalah permulaan penggunaan mineral zeolit alam. Dikarenakan mineral zeolit alam sulit dipisahkan dari batuan induknya maka ini menjadi alasan dibuatnya zeolit sintesis. Mineral zeolit sintetis yang dibuat tidak dapat persis sama dengan mineral zeolit alam, walaupun zeolit sintetis mempunyai sifat fisik yang jauh lebih baik. Pada tahun tersebut merupakan titik awal penggunaan nyata bagi mineral zeolit alam untuk keperluan berbagai industri. Diharapkan dengan adanya berbagai penelitian mengenai zeolit alam diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah.
Mineral zeolit bukan merupakan mineral tunggal, melainkan sekelompok mineral yang terdiri dari beberapa jenis unsur. Secara umum mineral zeolit adalah senyawa alumino silikat hidrat dengan logam alkali tanah serta mempunyai rumus kimia sebagai berikut :
M2x/nSi1-xAlxO2.yH2O
Dengan M = e.g Na, K, Li, Ag, NH, H, Ca, Ba, …
Ikatan ion Al-Si-O adalah pembentuk struktur kristal, sedangkan logam alkali adalah kation yang mudah tertukar (exchangeable cation). Jumlah molekul air menunjukkan jumlah pori-pori atau volume ruang hampa yang akan terbentuk bila unit sel kristal zeolit tersebut dipanaskan. Sekarang ini lebih dari 40 zeolit alam maupun 150 tipe yang artificial telah digunakan dalam berbagai bidang berdasarkan publikasi International Zeolit Association. Pada struktur zeolit, semua atom Al dalam bentuk tertahedra sehingga atom Al akan bermuatan negatif karena berkoordinasi dengan 4 atom oksigen dan selalu dinetralkan oleh kation alkali atau alkali tanah untuk mencapai senyawa yang stabil (gambar 2.1). Lain halnya dengan batuan lempung (clay materials) dengan struktur lapisan, dimana sifat pertukaran ionnya disebabkan oleh brokend bonds yaitu makin kecil partikel penyerapan makin besar, gugus hidroksid yang mana atom hidrogen dapat digantikan dengan kation lain atau substitusi isomorf Al pada tertrahedra Si menyebabkan ikatan Al-Si cukup kuat dan mengurangi swelling.
Gambar 2.2 Tetrahedra alumina dan silika (TO) pada struktur zeolit4
Metode Pembuatan Membran Zeolit
Untuk menghasilkan membran zeolit, zeolit alam di hancurkan menggunakan ball mill atau bisa digerus secara manual (kira-kira 3 x 3 cm), selanjutnya dilakukan proses penyaringan, untuk memudahkan saat dilakukan aktifasi. Penyaringan dilakukan selama 30 menit menggunal molecular siever sampai dengan ukuran 10μm. Hasilnya dipanaskan agar terjadi aktifasi. Pemanasan dapat dilakukan pada suhu 200 o C hingga 900 oC pada kondisi tekanan 1 atm. Material hasil aktifasi tersebut dapat diaktifasi untuk meningkatkan luas permukaan dan kemampuan adsorpsinya.
Kegunaan Zeolit
Penggunaan zeolit cukup banyak, misalnya untuk industri kertas, karet, plastik, agregat ringan, semen puzolan, pupuk, pencegah polusi, pembuatan gas asam, tapal gigi, mineral penunjuk eksplorasi, pembuatan batubara, pemurnian gas alam, industri oksigen, industri petrokimia, sebagai makanan ternak dan lain-lain. Mengingat mineral zeolit terutama yang mempunyai arti ekonomi umumnya dijumpai di dalam batuan sedimen piroklastik maka diharapkan di Indonesia terdapat banyak mineral tersebut. Seperti diketahui sebagian besar wilayah Indonesia terdiri dari batuan gunung api, termasuk batuan piroklastik berbutir halus (tuf) yang merupakan sumber mineral zeolit. Dimensi penggunaan yang cukup luas dalam berbagai aspek kehidupan, maka dapat diprediksikan permintaan kesehjateraan dan perekonomian nasional.
Pada dasarnya penggunaan mineral zeolit alam sama dengan zeolit sintesis. Hal ini disebabkan oleh persamaan sifat fisik dan kimia yang dimiliki oleh kedua jenis mineral zeolit. Walaupun pada galibnya mineral zeolit sintesis lebih murni, masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Persamaan utama dua jenis tersebut ion exchange, absorpsi, dan molecular sieving.
Struktur Kristal Zeolit
Seperti halnya mineral kwarsa dan felspar, maka mineral zeolit mempunyai struktur kristal 3 dimensi tetrahedra silikat (Si44-) yang biasa disebut tectosilicate. Dalam struktur ini sebagian silikon (tidak bermuatan atau netral) kadang-kadang diganti oleh aluminium bermuatan listrik, sehingga muatan listrik kristal zeolit tersebut bertambah. Kelebihan muatan ini biasanya diimbangi oleh kation-kation logam K, Na, dan Ca yang menduduki tempat tersebar dalam struktur zeolit alam yang bersangkutan.
Dalam susunan kristal zeolit terdapat dua jenis molekul air, yaitu molekul air yang terikat kuat dan molekul air yang bebas. Berbeda dengan struktur kisi kristal kwarsa yang kuat dan pejal, maka struktur kisi kristal zeolit terbuka dan mudah terlepas. Volume ruang hampa dalam struktur zeolit cukup besar kadang-kadang mencapai 50 Angstrom, sedangkan garis tengah ruang hampa tersebut bermacam-macam, berkisar antara 2A hingga lebih dari 8A, tergantung dari jenis mineral zeolit yang bersangkutan. Dibawah ini struktur stereotip clinoptilolite yang menjadi precursor dalam penelitian ini.
Gambar 2.3 Struktur stereotip clinoptilolite
Volume dan ukuran garis tengah ruang hampa dalam kisi-kisi kristal inilah yang menjadi dasar penggunaan mineral zeolit sebagai bahan penyaring (molecular sieving). Molekul zat yang disaring yang ukurannya lebih kecil dari ukuran garis tengah ruang hampa mineral zeolit dapat melintas, sedangkan yang berukuran lebih besar akan tertahan atau ditolak. Kapasitas atau daya saring mineral zeolit tergantung dari volume dan jumlah ruang hampanya. Makin besar jumlah ruang hampa, maka makin besar pula daya saring zeolit alam yang bersangkutan.
.
Pembuatan Katalis Logam – Ziolit
Peran komponen aktif logam Cr pada permukaan katalis adalah untuk mengabsorbsi reaktan yang telah terdifusi dari permukaan katalis sehingga dapat mempercepat reaksi. Telah diketahui bahwa logam transisi mempunyai daya absorbsi yang sangat kuat, dan berhubungan dengan adanya karakteristik orbital d yang memiliki pasangan electron belum penuh sehingga menyebabkan keseberagaman keadaan elektronik degenerate yang mempunyai keaktifan dalam pemutusan dan pembentukan ikatan kimia.
Oleh karena itu logam Cr mudah membentuk ikatan kovalen koordinasi sehingga pembentukan zat antara pada permukaan katalis menjadi lebih mudah sehingga logam Cr sangat berperan dalam berbagai reaksi katalitik.
Dalam rangka memperoleh katalis yang baik, dibuatlah suatu sistem logam pengemban yaitu dengan cara menempelkan komponen aktif logam kedalam suatu bahan pengemban berpori seperti zeolit. Keuntungan yang diperoleh adalah komponen aktif logam dapat didistribusikan secara merata keseluruh pori-pori bahan pengemban sehingga terbentuklah sistem dispersi komponen aktif yang homogen dan luas permukaan katalis logam menjadi besar.
Minyak Jelantah
Minyak jelantah (waste cooking oil) merupakan limbah dan bila ditinjau dari komposisi kimianya, minyak jelantah mengandung senyawa-senyawa yang bersifat karsinogenik, yang terjadi selama proses penggorengan. Jadi jelas bahwa pemakaian minyak jelantah yang berkelanjutan dapat merusak kesehatan manusia, menimbulkan penyakit kanker, dan akibat selanjutnya dapat mengurangi kecerdasan generasi berikutnya. Untuk itu perlu penanganan yang tepat agar limbah minyak jelantah ini dapat bermanfaat dan tidak menimbulkan kerugian dari aspek kesehatan manusia dan lingkungan.
Salah satu bentuk pemanfaatan minyak jelantah agar dapat bermanfaat dari berbagai macam aspek ialah dengan mengubahnya secara proses kimia menjadi biodiesel. Hal ini dapat dilakukan karena minyak jelantah juga merupakan minyak nabati, turunan dari CPO (crude palm oil). Adapun pembuatan biodiesel dari minyak jelantah ini menggunakan reaksi transesterifikasi seperti pembuatan biodiesel pada umumnya dengan pretreatment untuk menurunkan angka asam pada minyak jelantah.
METODE
Zeolit alam sebanyak 100 gram dihaluskan kemudian diayak menggunakan pengayak 100 mesh. Zeolit direndam dalam akuades sambil diaduk dengan pengaduk besi selama satu jam pada temperatur kamar. Rendaman tersebut disaring dan dikeringkan dalam oven pada suhu 120oC selama 2 jam. Zeolit kemudian dikalsinasi dengan aliran gas N2 pada suhu 400oC selama 4 jam.
Logam Cr diembankan pada zeolit aktif dengan impregnasi basah dalam larutan Cr(NO3)3.9H2O. Sampel katalis yang diperoleh disaring dan dicuci sampai air cuciannya bening. Hasil impregnasi kemudian dikeringkan dengan oven pengering pada temperatur 120oC selama 2 jam. Sampel dikalsinasi pada suhu 400oC selama 3 jam dan dialiri gas nitrogen laju alir 25 ml/menit. Proses selanjutnya adalah oksidasi dengan cara mengalirkan gas oksigen pada suhu 300oC selama 1,5 jam. Untuk menghasilkan katalis Cr/zeolit alam, maka setelah tahap kalsinasi, sampel direduksi dengan H2 selama 3 jam pada suhu 400oC dengan laju alir gas H2 20 ml/menit.
Karakterisasi padatan katalis meliputi penentuan struktur kristal dengan metode difraksi Sinar X dan penentuan keasaman dilakukan dengan metode gravimetri. Sampel katalis sebanyak 2 gram dimasukkan ke dalam kolom reaktor perengkah system flow fixed-bed dan 10 mL sampel minyak jelantah yang telah diesterkan dimasukkan ke dalam reactor umpan. Pemanas kolom (furnace) reaktor, tempat katalis dan umpan ester jelantah (feedstocks) dipanaskan hingga temperatur 400oC dengan mengatur regulator tegangan. Gas hidrogen dialirkan pelan-pelan dengan variasi kecepatan alir 5; 10; 15; 20; 25 mL/menit selama 1 jam. Selama proses perengkahan berlangsung botol penampung produk dan selang dari pipa kaca ulir didinginkan dengan pendingin es dan garam. Setelah proses reaksi selesai produk atau organic liquid product (OLP) dianalisis dengan menggunakan GC dan GC-MS.
Sampel katalis sebanyak 2 gram dimasukkan ke dalam kolom reaktor perengkah sistem flow fixed-bed dan 10 mL sampel minyak jelantah yang telah diesterkan (metil ester jelantah) dimasukkan ke dalam reaktor umpan. Produk reaksi diambil pada menit ke- 15; 30; 45; 60 dari awal munculnya produk. Langkah kerja untuk uji perbandingan, sama dengan langkah kerja pada uji aktivitas katalis.
Dalam uji ini dilakukan perengkahan menggunakan zeolit alam, dan perengkahan tanpa katalis.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis XRD
Difraktogram dari zeolit alam ditampilkan pada Gambar 1. Berdasarkan gambar 1 dan dicocokkan dengan data JCPDS yang ditunjang oleh XRD Simulated Pattern, puncak tajam pada 2θ = 26, 9789o (d= 3,380223 Å), dan 2θ= 28,0747o (d=3,17578 Å) merupakan puncak karakteristik dari leucit. Puncak tajam pada 2θ=25,9859o (d=3,17578 Å), merupakan puncak karakteristik untuk majasite.
Identifikasi terhadap difraktogram katalis Cr/zeolit alam memberikan beberapa puncak karakteristik. Analisis kualitatif terhadap difraktogram menunjukkan katalis Cr/Zeolit alam menunjukkan adanya spesi oksidanya adalah CrO2 yang muncul pada 2θ = 36, 520o (d=2, 45837 Å), 2θ = 63, 260o (d=1, 46879 Å) dan 2θ = 71, 680o (d=1, 31554 Å) dan Cr2O3 yang muncul pada 2θ = 24, 880o (d=3, 57576 Å), 2θ = 33, 800o (d=2, 64973 Å) dan 2θ = 50, 580o (d=1, 80309 Å).
Koehler dkk (1995) menyebutkan bahwa spesi oksida Chromium dihasilkan pada saat kalsinasi, di mana terjadi dekomposisi termal denitrasi dan dehidrasi yang kompleks. Reaksinya dapat diilustrasikan sebagai berikut:
| N2 |
Berdasarkan hasil analisis kualitatif yang telah dicocokkan dengan Joint Comittee of Powder Diffraction Standard (JCPDS), tidak menunjukkan adanya puncak dari Cr. Meskipun sudah direduksi dengan gas hidrogen pada temperatur 500oC, namun suhu tersebut belum mampu mereduksi Cr2O3 menjadi Cr. Yan (1997) dalam penelitiannya mengemukakan bahwa suhu reduksi katalis berkaitan dengan kristalinitas pengemban. Semakin baik kristalinitas pengemban maka suhu reduksi katalisnya semakin tinggi.
Hasil Penentuan Keasaman Padatan
Keasaman padatan yang ditentukan dalam penelitian ini adalah keasaman total, diperoleh melalui pengukuran jumlah milimol basa amoniak yang teradsorpsi pada permukaan padatan, dimana jumlah basa amoniak dari fasa gas yang diadsorpsi oleh permukaan padatan ekivalen
dengan jumlah asam pada permukaan padatan yang menyerap basa tersebut. Hasil dari karakterisasi keasaman padatan menunjukkan peningkatan keasaman total katalis dibandingkan dengan zeolit aktif yaitu dari 0,4529 mmol menjadi 0,6177 mmol. Hal ini menunjukkan bahwa baik zeolit alam aktif maupun katalis Cr/zeolit alam dapat mengadsorpsi amoniak meskipun dalam jumlah yang berbeda-beda, karena pada dasarnya zeolit merupakan katalis yang bersifat asam. Bertambahnya keasaman suatu senyawa dapat dilihat dari meningkatnya rasio Si/Al. Penelitian Setyawan (2003) menyebutkan bahwa rasio Si/Al dapat meningkat karena perlakuan kalsinasi dan impregnasi logam Cr. Kalsinasi pada suhu tinggi dengan gas nitrogen dapat menghilangkan pengotor yang menutupi pori-pori zeolit, menyebabkan pori-pori zeolit menjadi lebih terbuka, permukaan padatannya lebih bersih dan luas. Dengan demikian permukaan zeolit menjadi efektif menyerap basa amoniak.
Pengaruh Laju Alir Hidrogen terhadap Konversi Minyak jelantah menjadi Bahan Bakar Cair. Pengaruh laju alir gas hidrogen terhadap konversi minyak jelantah dilakukan dengan memvariasikan laju alir yaitu 5, 10, 15, 20, dan 25 mL/menit dengan massa katalis dan temperature tetap. Pengaruh laju alir gas hidrogen tersebut diamati untuk setiap penampungan produk masingmasing selama satu jam. Hubungan antara laju alir hidrogen terhadap konversi produk (%) yang dihasilkan ditunjukkan pada gambar di bawah ini.
Dari gambar terlihat bahwa laju alir gas hidrogen optimum yaitu 5 mL/menit dengan konversi sebesar 14,576%. Hal ini dapat dijelaskan bahwa untuk terjadi reaksi diperlukan tumbukan dengan energi tertentu agar reaktan teradsorpsi dengan sempurna (Roza, 2005). Pada laju alir hidrogen 5 mL/menit interaksi reaktan dengan permukaan katalis relatif lama karena dengan laju alir hidrogen yang lambat, interaksi reaktan dengan permukaan katalis tidak terganggu oleh kecepatan aliran dari gas tersebut. Interaksi antara reaktan dengan permukaan katalis yang relatif lama menyebabkan molekul reaktan teradsorpsi kuat, sehingga aktivitas katalis menjadi lebih maksimal dalam proses reaksi ini.
Pengaruh Waktu Reaksi terhadap Konversi Minyak jelantah menjadi Bahan Bakar Cair
Pengaruh waktu pengambilan produk terhadap konversi minyak jelantah dilakukan dengan memvariasikan waktu pengambilan produk pada menit ke- 15, 30, 45, dan 60 setelah produk pertama kali dihasilkan. Pengaruh waktu pengambilan produk tersebut diamati dengan laju alir 5 mL/menit. Hubungan antara waktu pengambilan produk terhadap konversi produk (%) yang dihasilkan ditunjukkan pada gambar di bawah ini.
Waktu pengambilan produk dapat diasumsikan sebagai waktu reaksi. Dari gambar terlihat bahwa waktu reaksi optimum yaitu 45 menit setelah produk muncul pertama kalinya dengan konversi sebesar 75,218 %. Gambar di atas memperlihatkan bahwa waktu reaksi yang singkat menghasilkan persentase konversi rendah. Hal ini disebabkan karena kemungkinan menempelnya molekul-molekul reaktan ke permukaan katalis yang kecil, sehingga adsorpsi moleku-molekul reaktan pada permukaan katalis menjadi lemah. Akibatnya jumlah molekul yang teradsorpsi menjadi sedikit dan aktivitas katalis menjadi berkurang.
Menurut Hidayat (2005), waktu reaksi yang terlalu lama akan menyebabkan molekulmolekul yang teradsorpsi di permukaan katalis menjadi stabil sehingga sukar untuk terlepas kembali, karena jenis adsorpsi yang terjadi antara molekul-molekul reaktan pada permukaan katalis merupakan proses adsorpsi secara kimia atau disebut dengan kemisorpsi. Hal ini dapat teramati pada waktu reaksi 60 menit dengan menurunnya hasil konversi menjadi 45,4%. Menurunnya hasil konversi disebabkan oleh kinerja katalis yang menurun akibat dari tertutupnya permukaan katalis oleh molekul-molekul reaktan yang tidak terdesorpsi. Untuk mendapatkan aktivitas katalis yang besar dengan konversi yang maksimal dibutuhkan waktu reaksi yang tidak terlalu lama dan tidak terlalu sebentar.
Hasil Uji Perbandingan
Uji perbandingan ini bertujuan ingin mengetahui apakah perengkahan dengan katalis Cr/Zeolit alam mampu menghasilkan konversi yang lebih baik jika dibandingkan dengan perengkahan menggunakan zeolit alam atau perengkahan tanpa menggunakan katalis. Proses
pengujian ini dilakukan pada kondisi operasi yang sama dengan laju alir optimum yaitu 5 mL/menit. Setelah dilakukan analisis menggunakan Gas Chromatography (GC), diperoleh hasil konversi yang dapat dilihat pada gambar berikut.
Berdasarkan gambar di atas, dapat diketahui bahwa reaksi dapat berlangsung tanpa katalis ataupun juga menggunakan katalis, namun dengan adanya katalis sangat berpengaruh pada kecepatan pembentukan produk untuk reaksi perengkahan. Hasil perengkahan menggunakan
katalis Cr/Zeolit alam menunjukan persentase konversi yang cukup tinggi yaitu 75,2182%. Perengkahan dengan zeolit alam hanya menghasilka 21,7438 % konversi, dan perengkahan tanpa katalis menghasilkan konversi sebesar 15,5803 %.Ini menunjukkan bahwa katalis yang telah dimodifikasi dapat bekerja lebih baik.
Gambar 1. Hasil Uji Perbandingan
Gambar 2. Konversi Minyak Jelantah dengan katalis Cr/zeolit alam pada berbagai laju alir hidrogen
Gambar 3. Konversi minyak jelantah dengan katalis Cr/zeolit alam pada berbagai waktu Kontak.
Hasil Analisis GC-MS Produk Perengkahan Minyak jelantah. Analisis GC-MS bertujuan untuk mengetahui jenis berikut komposisi senyawa yang terkandung di dalam produk perengkahan minyak jelantah. Perkiraan hasil perengkahan minyak jelantah menggunakan katalis Cr/Zeolit alam disajikan dalam Tabel 1. Pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa dari kelima produk yang dihasilkan, yang paling mendekati fraksi bahan bakar cair adalah senyawa dengan waktu retensi 14,567. Senyawa tersebut memiliki rantai C5 yang merupakan bagian dari fraksi bahan bakar cair.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
o Hasil dari karakterisasi keasaman padatan menunjukkan peningkatan keasaman total katalis dibandingkan dengan zeolit aktif yaitu dari 0,4529 mmol menjadi 0,6177 mmol.
o Analisis kualitatif menunjukkan katalis Cr/Zeolit alam spesi oksidanya adalah CrO2 dan Cr2O3.
o Aktivitas terbaik ditunjukkan oleh kinerja katalis Cr/Zeolit alam pada variasi laju alir 5 mL/menit dan waktu 45 menit dengan konversi 75,23%.
o Terdapat beberapa jenis senyawa produk hasil reaksi perengkahan minyak jelantah, antara lain 43,17 % 2 propanon; 12,79 % etanol; 12,58 % asam asetat; 2,96 % 1-metoksi-2-propil ester; dan 0,66 pentana.
Saran
Perlu dilakukan penelitian mengenai pengaruh perbandingan umpan minyak jelantah dan massa katalis.
DAFTAR PUSTAKA
· A. Dyer., 1988. "Introduction to Zeolite Molecular Sieves", John Willey and Sons, Chichester.
· Breck, D.W., 1974. "Zeolite Molecular Sieves", John Willey Interscience, New York.
· Handoko, D.S.P. 2005. Aktivitas Katalis Ni/H5-NZA dan Mekanismenya Pada Konversi Jelantah Menjadi Senyawa Fraksi Solar dan BensinDengan Umpan Pancingan Jenis Metanol dan Butanol. Jember: Jurusan Kimia Fakultas MIPA Universitas Jember.
· Hidayat, Y. 2005. Pengaruh Laju Alir Hidrogen dan Waktu Reaksi Terhadap Aktivitas Katalis Pt-Pd/ZAA Pada Reaksi Hidrodeoksigenasi Tetrahidrofuran. Tesis S-2. Yogyakarta: Program Pasca Sarjana UGM.
· Kadarwati Sri., dkk. 2010. Aktivitas katalis Cr/zeolit alam pada reaksi Konversi minyak jelantah menjadi bahan bakar Cair. FMIPA Universitas Negeri Semarang. Semarang.
· Koehler, K; Engweiler, J; Viebrock, H; and Baiker, A. 1995. Chromia Supported on Titania. V: Preparation and Characterization of Supported CrO2, CrOOh, and Cr2O3. Journal of Catalysis.157: 301-311
· Mumpton, F.A and Sand, L.B., 1974. in "Natural Zeolite, occurence, properties and uses", Pergamon Press, Oxford.
· Rase, H.F. 2000. Handbook of Comercial Catalysts Heterogeneous Catalyst. Boca Raton: CRC Press.
· Riyadi Adhi., dkk. 2002. Pembuatan Bahan Bakar Setingkat Bensin Dari Sampah Plastik Jenis Propilen Dengan Katalis Cr 1 % Zeolit Bahan Aktif. Buletin Penalaran Mahasiswa UGM Volume 9 No. 1. Yogyakarta.
· Siemmen, M.J et al. 1978. in "Natural Zeolite, occurence,properties and uses", Pergamon Press, Oxford.